1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
  • Buka Puasa Bersama

    Buka...

    Monday, 28 May 2018 00:30
  • Penerimaan CPNS/CAKIM di PA MASOHI

    Penerimaan...

    Monday, 14 May 2018 02:42
  • Pengadilan Agama Masohi Bukber Bareng Warga dan Anak Yatim

    Pengadilan...

    Monday, 19 June 2017 02:00
  • PA Masohi

    PA...

    Monday, 19 September 2016 22:54
  • Perdana Kunjungan KPTA Ambon dan Tim Hatibinwasda kunjungi PA Masohi

    Perdana...

    Wednesday, 18 May 2016 00:14
  • KPA Masohi Lantik Pejabat Baru, Jangan Sampai Tercipta Dualisme Kepemimpinan

    KPA...

    Tuesday, 12 January 2016 00:45
Error
  • JUser: :_load: Unable to load user with ID: 197
  • JUser: :_load: Unable to load user with ID: 198
  • JUser: :_load: Unable to load user with ID: 105
  • JUser: :_load: Unable to load user with ID: 62

Artikel/Karya Ilmiah

25Jan

KOMPETENSI RELATIF PADA PERKARA

Dimuat oleh Ali Rahman Parry, SHI | Jumat, 25 Januari 2013 09:15 | Artikel

KOMPETENSI RELATIF PADA PERKARA

CERAI TALAK

Oleh : Drs. Mursidin, MH.*

I.  Pendahuluan

Dalam era reformasi seperti sekarang ini, semua lembaga pelayanan masyarakat dituntut untuk dapat melayani secara professional, cepat, benar dan tepat. Demikian pula pelayanan hukum dan keadilan pada lembaga peradilan, dituntut untuk memberikan pelayanan yang sederhana, cepat dan biaya ringan.

Read more: KOMPETENSI RELATIF PADA PERKARA

09Nov

Hidayah

HIDAYAH

  1. A. Makna Hidayah

Hidayah secara bahasa berasal dari kata hadaa-yahdii-hidaayatan yang berarti memberi petunjuk yang benar.

Dalam Tafsir Almishbah karya (Dr. H. M. Quraish Shihab) dijelaskan bahwa kata hidayah terambil dari akar kata ha, dal, ya, maknanya berkisar pada 2 hal; 1) tampil ke depan memberi petunjuk; 2) menyampaikan dengan lemah lembut, dari sinilah lahir kata hadiah yang merupakan penyampaian sesuatu dengan lemah lembut.

Dalam kitab Tafsir Al-Munir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan hidayah Allah adalah petunjuk-petunjuk Allah yang diberikan kepada manusia agar manusia berjalan di jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan kebenaran bukan jalan orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Allah berfirman Q.S. Al-Maidah (5) ayat 16 :

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

”Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman Q.S. Al-Fatihah (1) ayat 6 ;

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukanlah kami ke jalan yang lurus!”

  1. B. Macam dan Tingkatan Hidayah

Para ulama membagi petunjuk agama kepada dua macam petunjuk :

1.  (هداية الارشاد والبيان)  hidayah berupa petunjuk dan penjelasan; atau yang dalam Tafsir al-Mishbah disebut juga dengan petunjuk menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi;

Firman Allah swt. Q.S  Asy-Syuura (42) ayat 52 :

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

52. dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

 

2.  (هداية التوفيق والالهام) Hidayah berupa bimbingan/pertolongan dan ilham. Atau yang dalam tafsir Al-Mishbah disebut dengan hidayah berupa petunjuk serta kemampuan untuk melaksanakan isi petunjuk. Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah swt.

Q.S. Al-Qashash (28) ayat 56 :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

56. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Q.S. Fushshilat  (41) ayat 71 :

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

17. dan Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.

 

Thahir ibn Asyur (dalam tafsir Al-Mishbah karya H.M Quraish Shihab) membagi hidayah kepada empat tingkatan :

1.  (القوى المحركة  والمدركة) yaitu potensi potensi penggerak dan tahu. Melalui potensi ini seseorang dapat memelihara wujudnya;

2.  Petunjuk yang berkaitan dengan dalil-dalil yang dapat membedakan antara hak dan batil, yang benar dan salah. Ini adalah hidayah pengetahuan teoritis.

3.  Hidayah yang tidak dapat dijangkau oleh analisis dan aneka argumentasi akliah, atau yang bila diusahakan akan sangat memberatkan manusia. Hidayah ini dianugerahkan oleh Allah swt dengan mengutus rasul-rasul-Nya serta menurunkan kitab-kitab-Nya.

4.  Yang merupakan puncak hidayah Allah swt adalah yang mengantar kepada tersingkapnya hakikat-hakikat yang tertinggi, serta aneka rahasia yang membingungkan para pakar dan cendekiawan. Ini diperoleh melalui wahyu atau ilham yang shahih atau limpahan kecerahan (tajalliyaat) yang tercurah dari Allah swt.

  1. Cara Menggapai Hidayah

Setelah mengetahui hal ini, lantas bagaimana upaya kita untuk mendapatkan hidayah? Bagaimana caranya membuat orang lain mendapatkan hidayah?

Di antara sebab-sebab seseorang mendapatkan hidayah adalah:

1. Bertauhid

Seseorang yang menginginkan hidayah Allah, maka ia harus terhindar dari kesyirikan, karena Allah tidaklah memberi hidayah kepada orang yang berbuat syirik. Allah berfirman Q.S. Al-An’am (6) ayat 82 :

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

82. orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

2. Taubat kepada Allah

Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang yang tidak bertaubat dari kemaksiatan, bagaimana mungkin Allah memberi hidayah kepada seseorang sedangkan ia tidak bertaubat? Allah berfirman Q.S. Ibrahim  (14) ayat 4 :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

4. Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

3. Belajar Agama

Tanpa ilmu (agama), seseorang tidak mungkin akan mendapatkan hidayah Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

حدثنا علي ، ثنا إسماعيل ، ثنا عبد الله بن سعيد بن أبي هند ، عن أبيه ، عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال« من يرد الله به خيرا يفقه في الدين »

“Jika Allah menginginkan kebaikan (petunjuk) kepada seorang hamba, maka Allah akan memahamkannya agama”

4. Mengerjakan apa yang diperintahkan dan menjauhi hal yang dilarang.

Kemaksiatan adalah sebab seseorang dijauhkan dari hidayah. Allah berfirman Q.S. An-Nisa’ (4) ayat 66 – 68 :

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا (66) وَإِذًا لَآَتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا (67) وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (68)

66. dan Sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. dan Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),

67. dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, 68. dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

5. Membaca Al-qur’an, memahaminya mentadaburinya dan mengamalkannya.

Allah berfirman QS. Al-Isra (17) ayat 9 :

إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا (9)

9. Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,

6. Berpegang teguh kepada agama Allah

Allah berfirman QS. Ali-Imron (3) ayat 101 :

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (101)

101. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, Padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka Sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

7. Mengerjakan sholat.

Di antara penyebab yang paling besar seseorang mendapatkan hidayah Allah adalah orang yang senantiasa menjaga sholatnya, Allah berfirman QS. Al-Baqoroh (2) ayat 1 – 3 :

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3)

1. Alif laam miin. 2. Kitab[11] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, 3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

8. Berkumpul dengan orang-orang sholeh

Allah berfirman QS. Al-An’am (6) ayat 71:

قُلْ أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَى أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى ائْتِنَا قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (71)

71. Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang[488], sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam Keadaan bingung, Dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang Lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami". Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam,

Ibnu katsir menafsiri ayat ini, “Ayat ini adalah permisalan yang Allah berikan kepada teman yang sholeh yang menyeru kepada hidayah Allah dan teman yang jelek yang menyeru kepada kesesatan, barangsiapa yang mengikuti hidayah, maka ia bersama teman-teman yang sholeh, dan barang siapa yang mengikuti kesesatan, maka ia bersama teman-teman yang jelek. “

Dengan mengetahui hal tersebut, marilah kita berupaya untuk mengerjakannya dan mengajak orang lain untuk melakukan sebab-sebab ini, semoga dengan jerih payah dan usaha kita dalam menjalankannya dan mendakwahkannya menjadi sebab kita mendapatkan hidayah Allah. Syaikh Abdullah Al-bukhori mengatakan dalam khutbah jum’atnya “Semakin seorang meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah, niscaya bertambah hidayah padanya. Seorang hamba akan senantiasa ditambah hidayahnya selama dia senantiasa menambah ketaqwaannya. Semakin dia bertaqwa, maka semakin bertambahlah hidayahnya, sebaliknya semakin ia mendapat hidayah/petunjuk, dia semakin menambah ketaqwaannya. Sehingga dia senantiasa ditambah hidayahnya selama ia menambah ketaqwaannya.”

Oleh : Ibrahim Ahmad Harun (dari berbagai sumber)

artikel ini pertama kali dipublikasikan di blog saya www.isim-hikmah.blogspot.com

Literatur :

  1. Al-Qur’an Al-Karim (Maktabah Syamilah)
  2. H.M. Qurais Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Volume Pertama.
  3. http://muslim.or.id/aqidah/hidayah-milik-allah.html
  4. http://www.lazuardibirru.org/duniaislam/ngobraz/aqidah/apa-arti-hidayah-allah/

 

13Aug

Insya Allah Tahun ini Kita ber-Idul Fitri Bersama

Dimuat oleh Ibrahim Ahmad Harun,S.Ag.|Rabu, 14 Agustus 2012 09:10 | Hisab Rukyat

Ijtimak menjelang awal Syawal 1433 H terjadi pada hari Jumat,17 Agustus 2012 bertepatan dengan tanggal 28 Ramadan 1433 H, sekitar pukul 22:54 WIB. Pada saat matahari terbenam hari itu, di seluruh wilayah Indonesia hilal awal Syawal belum wujud. Hilal awal Syawal 1433 H baru dapat dirukyat keesokan harinya (18 Agustus 2012 bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan 1433 H), tinggi mar'i (lihat) hilal pada saat matahari terbenam tanggal 18 Agustus 2012/29 Ramadan 1433 H di seluruh wilayah Indonesia lebih dari 5* 18', jarak sudut matahari dan hilal lebih dari 8* s.d.10*, dan umur hilal setelah ijtimak lebih dari 17 s.d. 19 jam. (Sumber SE Dirjen Badilag nomor 325/DJA.4/OT.01.3/V/2012, tanggal 9 Juli 2012, Perihal Itsbat Rukyat Hilal awal ramadhan, Syawal dan Zulhijjah 1433 H)

Read more: Insya Allah Tahun ini Kita ber-Idul Fitri Bersama

20Jul

Pelaksanaan Rukyat Hilal Awal Ramadhan 1433 H Pengadilan Agama Masohi

Dimuat oleh Ibrahim Ahmad Harun,S.Ag.| Jumat, 20 Juli 2012 14:10 | Hisab Rukyat

BERSAMA KEMENAG PA MASOHI MELAKSANAKAN RUKYAT HILAL

AWAL RAMADHAN 1433 H.

Perukyat saat mengintip Hilal Awal ramadhan 1433 H.

(Perukyat sedang mengintip Hilal Awal Ramadhan 1433 H)

www.pa-masohi.go.id, 20 Juli 2012.

Berdasarkan ketentuan Pasal 52 A Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang  Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Pengadilan Agama bertugas ”memberikan istbat kesaksian rukyatul hilal dalam penentuan awal bulan pada tahun Hijriyah”, Serta merujuk pada anjuran dari Ditjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI, sesuai surat nomor 325/DJA.4/OT.01.3/VII/2012, perihal Itsbat rukyatul hilal awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah 1433 H. tanggal 9 Juli 2012, yang mengharapkan agar Ketua Pengadilan Tingkat Banding dan Tingkat Pertama di lingkungan Peradilan Agama  melakukan koordinasi dengan Kepala Kantor Departemen Agama Provinsi / Kota dan Kabupaten, untuk melaksanakan sidang istbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal, maka pada hari Kamis, 19 Juli 2012 bertepatan dengan tanggal 29 Syakban 1433 H Pengadilan Agama Masohi dan Kementrian Agama Kabupaten Maluku Tengah yang tergabung dalam Tim Penyelenggara Hisab Rukyat  melakukan agenda rukyatul hilal 1 Ramadhan1433 H.

Read more: Pelaksanaan Rukyat Hilal Awal Ramadhan 1433 H Pengadilan Agama Masohi

27Jun

Kapan 1 Ramadhan 1433 H?

Dimuat oleh Ibrahim Ahmad Harun, S.Ag | Rabu, 27 Juni 2012 04:20 | Hisab Rukyat

Kapan 1 Ramadhan 1433 H?

Oleh : Ibrahim Ahmad Harun

Awal Ramadhan 1433 Hijriyah/2012 Masehi diperkirakan akan terjadi perbedaan antara penganut Wujudul Hilal dan Imkan Rukyat. Namun  walaupun nanti ada perbedaan kita mencoba menyikapinya dengan bijak tanpa harus saling menyalahkan.

Read more: Kapan 1 Ramadhan 1433 H?

07May

Koreksi Terhadap BUKU II Edisi Revisi 2010

Dimuat oleh Suharti, S.Kom | Senin, 07 Mei 2012 16:20 | Artikel

Beberapa Koreksi Terhadap BUKU II Edisi Revisi 2010

Oleh : Ibrahim Ahmad Harun*

Setelah penulis membaca makalah Rakernas MARI 2011 “Pemecahan Permasalahan Hukum di Lingkungan Peradilan Agama” ada beberapa permasalahan hukum yang dibahas dan pemecahan terhadap permasalahan hukum tersebut sekaligus mengoreksi Buku II edisi revisi 2010. Adapun beberapa koreksi tersebut sebagai berikut :

Read more: Koreksi Terhadap BUKU II Edisi Revisi 2010

07Mar

TELAAH ATAS AMAR PUTUSAN TENTANG PENYAMPAIAN SALINAN PUTUSAN KEPADA PPN

Dimuat oleh Suharti, S.Kom | Rabu, 07 Maret 2012 16:14 | artikel

TELAAH ATAS AMAR PUTUSAN

TENTANG PENYAMPAIAN SALINAN PUTUSAN KEPADA PPN *)

Oleh : Amran Abbas
Hakim Pengadilan Agama Masohi

A. Dasar Hukum;
1. Pasal 84 ayat (1), (2), (3) dan pasal 85 UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama jis. UU No. 3 Tahun 2006 dan UU No. 50 Tahun 2009.
2. Pasal 35 ayat (1) dan (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
3. SEMA No. 28/TUADA-AG/X/2002
4. Jurisprudensi No. 157/K/Ag/2001 tanggal 17 Januari 2003
5. Hasil Rakernas 2009 di Kalimantan

Read more: TELAAH ATAS AMAR PUTUSAN TENTANG PENYAMPAIAN SALINAN PUTUSAN KEPADA PPN

Pimpinan

Survei Kepuasan Pengunjung

Pegawai

Interaktif

Informasi & Pengaduan
   0914-22730

Gallery Foto PA Masohi

Kegiatan DYK Cabang Masohi

Go to Top